Seputar Kisah dan Resep Menghafal Al-Qur’an

 

Kisah Penghafal Revisi

Cover Kisah Penghafal Al-Qur’an, Disertai Resep Menghafal Al-Qur’an dari Para Pakar

Identitas Buku
JUDUL :Kisah Penghafal al-Qur'an, Disertai Resep Menghafal dari Para Pakar
CETAKAN : I, September 2015
PENERBIT : Quanta-Elexmedia, Jakarta
TEBAL: xxvi + 146 halaman
UKURAN: 15 cm
ISBN:  978-602-02-7268-9

Sinopsis: Harus diakui saat awal-awal menjadi penghafal al-Quran, penulis selalu dibayang-bayangi oleh keraguan akut dan disergap rasa pesimis. Ada secuil pertanyaan ganjil yang menyerbu otak penulis, “Apakah aku sanggup merampungkan seluruh hafalan al-Qur’an setebal itu?” Namun, berkat usaha yang tak kenal lelah serta diimbangi dengan doa, akhirnya penulis diberi anugerah Allah sehingga mampu merampungkan hafalan al-Qur’an.

Menghafal Al-Quran adalah salah satu di antara sekian banyak ibadah yang paling dicintai oleh Allah SWT. Menjadi penghafal Al-Quran adalah salah satu jalan untuk menjadi keluarga istimewa Allah. Untuk meraih predikat itu, tentulah tidak mudah. Perlu perjuangan ekstra keras, ketekunan, dan manajemen waktu yang teratur.

Buku berjudul Kisah Penghafal Al-Qur’an karya Ammar Machmud ini menjelaskan bahwa sebelum mulai menghafal Al-Qur’an, dibutuhkan niat kuat dan tujuan yang jelas. Pasalnya, niat adalah inti dari segala amal perbuatan. Jangan sampai seorang penghafal al-Quran memiliki niat yang salah. Jangan sampai pula menghafal Al-Qur’an karena terpaksa. Namun, kalaupun memang karena terpaksa, hendaknya keterpaksaan itu bisa menjadikannya ke arah hidup yang lebih baik bagi dirinya.

Dalam proses menghafal Al-Quran, dibutuhkan guru yang cakap dan sudah teruji kualitas serta kredibilitas bacaan dan hafalannya. Ini adalah syarat wajib dan mutlak alias tak bisa ditawar. Guru akan membimbing kita saat kita menyetorkan hafalan Al-Qur’an padanya.

Dalam buku ini, Ammar banyak berkisah ihwal perjuangannya yang ‘berdarah-darah’ dalam proses menghafal Al-Qur’an. Pelbagai rintangan menghampirinya. Hampir saja dia putus asa dan akan menghentikan proses menghafal itu. Namun setelah melakukan permenungan ia akhirnya memilih tetap setia, sebagaimana niat awal. Rintangan yang menghadangnya antara lain: keterbatasan biaya, keterbatasan waktu, anggapan miring dari sebagian teman, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Kini, setelah Ammar ‘selesai’ menghafal bukan berarti proses perjuangannya selesai.Sama sekali tidak. Ammar menyebut, ia wajib untuk terus menjaga hafalannya. Agar hafalannya tidak hilang. Proses menjaga hafalan ini butuh perjuangan yang super ekstra juga.

Buku ini memang lebih fokus pada Kisah Ammar dalam proses menghafal al-Quran. Dari awal sampai dia berhasil mengkhatamkannya. Namun, menurut Ammar, sejatinya sebagian kisahnya dalam menghafal hampir sama, atau bahkan sama, dengan kisah dari para penghafal Al-Qur’an lainnya.

Buku ini tentu saja dapat menjadi semacam “teman” bagi mereka yang punya niat untuk menghafal Al-Quran tapi tidak tahu cara memulainya. Pasalnya, buku di buku ini Ammar juga menuliskan metode dan resep untuk menghafal Al-Quran dari para pakar.

Bagi yang ingin tahu kisah Ammar lebih detil, terutama mengenai metode-motode yangdigunakannya untuk menghafal, bisa menghubunginya via SMS/WA di nomor 08574025908.Atau bisa lewat akun facebook: Ammar Machmud. (Red-A3).

LINK: https://www.progresifnews.com/2016/02/08/seputar-kisah-dan-resep-menghafal-al-quran/

Resep Hidup Sehat ala Nabi

DIMUAT MAJALAH TEBUIRENG Edisi 37/Maret-April 2015cover-hidup-sehat-ala-rasulullah
Judul Buku : Hidup Sehat ala Rasulullah
Penulis : dr. Zaidul Akbar
Penerbit : Mizania, Bandung
Cetakan : I, Februari 2014
Tebal : 184 halaman

Hidup di zaman modern menyebabkan manusia terbiasa berbuat segala sesuatu serbagampang dan instan. Imbasnya, budaya dan gaya hidup manusia pun akan berubah. Jika budaya yang dikembangkan itu positif maka akan melahirkan manusia bergaya hidup positif. Namun, jika budaya yang dikembangkan negatif, maka sudah pasti gaya hidupnya juga menjadi negatif.

Gaya hidup manusia modern yang serba instan dan enggan mengikuti anjuran agama (Islam) biasanya akan melahirkan manusia karatan; masih muda sudah keriput, mudah terserang penyakit, gampang capai, serta berumur pendek. Nah, agar kita sebagai Muslim tidak tertular gaya hidup karatan, maka kita harus bisa membentengi diri kita sendiri dengan selalu membiasakan berbuat hal positif. Salah satu sikap membiasakan hal positif adalah menjaga kesehatan.

Jauh sebelum ada dokter atau pakar kesehatan yang piawai mendiagnosa beragam penyakit, Nabi Muhammad Saw. adalah sosok pakar kesehatan yang tiada duanya. Karena beliau adalah orang yang sudah terbukti sehat dan tidak pernah menderita penyakit berat kecuali hanya dua kali saat menjelang wafatnya, yakni pertama, sakit saat diracuni oleh wanita Yahudi, dan yang kedua, saat beliau akan meninggal dunia. (hlm: 51). Buku karya Zaidul Akbar ini ingin mengungkap gaya hidup sehat Nabi sekaligus memberitahukan bagaimana sesungguhnya pengobatan ala Nabi.

Nabi mengajarkan beberapa hal agar hidup kita selalu sehat. Sebagai tamsil, dalam cara makan misalnya, beliau selalu menggunakan tangan kanan, beliau selalu mengambil makanan yang lebih dekat dan beliau melarang meniup makanan panas. Dalam hal tidur, beliau selalu tidur miring ke kanan dan setiap tidur beliau selalu berwudu terlebih dahulu, dan lain sebagainya.

Kesehatan adalah hal niscaya bagi manusia. Kesehatan itu nikmat duniawi paling mahal bagi manusia, sebab jika seseorang sudah terkena penyakit, manusia pasti tidak nyaman hidupnya. Bahkan, orang kaya yang sakit pun sampai rela menguras hartanya untuk berobat ke sana kemari demi bisa meraih kesembuhan. Intinya, karena kesehatan adalah barang mahal maka sudah seharusnya manusia wajib mensyukurinya.

Persoalan pentingnya adalah, bagaimana jika kita sudah berusaha menjaga kesehatan semaksimal mungkin tetapi kita masih terserang penyakit? Nah, pengobatan ala Nabi (al-thibbu al- nabawi) ini adalah jawabannya. Di dalam pengobatan ala Nabi itu setidaknya ada dua manfaat. Pertama, tidak memiliki efek samping yang membahayakan bagi tubuh manusia, dan yang kedua, sudah ada dalil sahih dari agama yang memerintahkan secara pasti. Lantas, apa saja pengobatan ala Nabi itu?

Dalam buku ini, Zaidul memerinci setidaknya ada dua macam cara pengobatan yang biasa dilakukan Nabi. Yakni; bekam dan madu. Bekam dijadikan Nabi sebagai cara mengobati pasiennya karena di dalam proses membekam itu ternyata memiliki manfaat yang dahsyat, yakni; ketika seseorang dilukai pada bagian tubuh tertentu, maka secara otomatis tubuh akan mengalami beberapa kondisi yang dikenal dengan respon peradangan yang terdiri dari panas, sakit, bengkak, dan gangguan fungsi lainnya. Dari reaksi peradangan itu, maka otomatis tubuh akan mengalami peningkatan sistem imun sehingga kekebalan tubuh seseorang juga akan meningkat (hlm: 147-148). Bekam ini sangat cocok bagi seseorang yang terserang penyakit ringan, seperti masuk angin dan lainnya, maupun penyakit berat, seperti kanker.

Sementara madu adalah obat multifungsi yang bisa menyembuhkan beragam penyakit atas izin Allah. Madu memiliki beragam khasiat seperti, bisa mengobati sariawan, sesak napas, batuk-batuk, sakit pencernaan, dan lain sebagainya. Selain diminum, madu juga bisa dioleskan untuk mengobati penyakit kulit seperti borok dan bisul. Alhasil, madu adalah obat mujarab yang sudah diakui khasiatnya baik dalam ajaran Islam maupun secara medis.

Sampai di sini, sudahkah kita sebagai Muslim meniru gaya hidup sehat dan cara pengobatan ala Nabi? Jika belum, sebaiknya janganlah kita terburu-buru mengklaim sebagai pengikut Nabi dan umat Nabi jika kita belum melaksanakan apa yang pernah Nabi lakukan! Sebab, sejatinya Nabi itu tidak suka pada umatnya yang banyak omong kosong tetapi nol dalam pelaksanaan. Buku ini adalah resep konkrit bagi umat Muslim dalam meniru gaya hidup sehat ala Nabi.
AMMAR MACHMUD, guru SMP Berbasis Pesantren Amanatul Ummah, Pacet Mojokerto

Menemani Tuhan yang Kesepian

TUHAN YANG KESEPIAN

Judul Buku     : Tuhan yang Kesepian
Penulis          : Tasirun Sulaiman
Penerbit         : Bunyan (lini Bentang Pustaka), Yogyakarta
Cetakan          : I, Mei 2013
Tebal             : xii + 204 halaman

Manusia sebagai makhluk Tuhan paling sempurna terkadang menjadi kurang ajar karena telah melalaikan-Nya. Manusia seringkali melupakan Tuhan di saat dalam kondisi keberlimpahan. Jika Tuhan sudah dilalaikan, Tuhan pun kesepian. Tuhan menjadi terasing di tengah keramaian. Bukankah kita sebagai makhluk-Nya seharusnya ‘menemani-Nya’ setiap saat agar Dia tidak kesepian?

Bertuhan atau tidak memang hak prerogatif manusia. Seandainya semua manusia di seluruh muka bumi ini ateis sekalipun, Tuhan tidak merasa dirugikan. Karena itu berarti Tuhan tidak perlu repot-repot membuat surge atau neraka. Tapi persoalannya, buat apa Tuhan menciptakan manusia jika Dia tidak ada yang menyembah?

Diakui atau tidak, manusia modern saat ini cenderung suka berpikir hal-hal yang praktis, instan, dan easy going. Mereka tak ingin berpikir kreatif bagaimana caranya saya dapat ‘menemukan’ Tuhan dan membahagiakan-Nya, tapi justru yang dipikirnya adalah sebaliknya, “yang penting saya ada, titik! Soal siapa atau apa yang membuat saya ada itu tidak penting!”. Paradigma semacam ini tentu dapat merusak hubungan vertikal antara Tuhan dengan manusia.

Lewat buku bertajuk Tuhan yang kesepian ini, Tasirun Sulaiman menggiring pembacanya untuk merenungi setiap jengkal cara berpikir manusia yang seringkali salah-kaprah dan berimbas pada ‘kebodohan’ sikap manusia. Ada banyak tulisan inspiratif sarat makna dalam buku ini yang mampu menggetarkan kalbu.

Dalam judul Malu misalnya. “Malu adalah sebagian dari iman, Malu adalah jiwa dan inti beragama. Jadi, orang yang tidak punya malu adalah orang yang tidak beragama”. Hampir mayoritas muslim di Indonesia pasti tahu ungkapan ini. Tapi, realitanya tak banyak muslim yang tahu hakikat makna malu sebenarnya.

Di negara tercinta yang mayoritas penduduknya muslim ini, malu ternyata sudah menjadi barang langka. Lihat saja, tingkah-polah politisi muslim nyaris sama dengan politisi sekuler. Para anggota dewan tak beda dengan anak-anak TK yang sering bertengkar dengan sesama temannya sendiri saat sidang, para birokrat gemar menilap uang rakyat dengan dalih menyuarakan “suara rakyat”. Bahkan, para ustadz ‘kacangan’ pun terkadang ikut-ikutan lebay dan alay laiknya selebritis. Jika sudah begitu, apakah Tuhan yang harus dipersalahkan? Tidak! Manusianya sendiri lah yang seharusnya berintrospeksi.

Selain itu, ada juga tulisan berjudul Kesepian yang menginspirasi judul buku ini. Judul ini mendedah ihwal Tuhan yang kesepian. Tuhan merasa kesepian karena manusia lebih cenderung mengabaikan-Nya dibanding membutuhkan-Nya. Jika pun manusia membutuhkan Tuhan, itupun hanya kadang-kadang atau sewaktu-waktu saja. Sebab, manusia modern sudah mengambil alih kekuasaan Tuhan.

Di tangan manusia modern, segala takdir dan nasib sepenuhnya ada dalam genggaman manusia. Bagi mereka, Tuhan tak lebih seharga kosmetik sebagai penghias hidup belaka. Intinya, Tuhan ada atau tidak, manusia acuh tak acuh. Terpenting baginya, hanyalah menikmati kehidupan di dunia ini sepuas-puasnya. Akhirat urusan nanti! Sungguh potret manusia semacam inilah yang disebut dalam Al-Quran sebagai manusia bodoh, sombong, lagi angkuh yang kelak akan menerima siksaNya yang sangat pedih.

Pencarian Tuhan

Pencarian Tuhan memang tidak mudah, apalagi mengimani eksistensi-Nya. Kita tentu tahu kisah Nabi Ibrahim AS yang berkali-kali khilaf dalam ‘memilih’ Tuhan. Ia pernah melihat rembulan, bintang, dan matahari yang ia anggap sebagai Tuhan karena mampu menyinari bumi. Tapi, nyatanya ketiganya tak mampu bertahan lama, karena ketiganya terbatas. Ketiganya terbenam. Dan Ibrahim a.s. sungguh tidak suka pada ‘tuhan’ yang terbenam. Setelah pencariannya yang tak kenal lelah, akhirnya Ibrahim menemukan Tuhan yang sebenarnya. Yakni Dia yang menciptakan langit, bumi beserta seluruh isinya, yakni Allah. Kisah ini diabadikan dalam QS. Al-An’am: 76-79.

Seiring dengan pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan modern dan teknologi, lahirlah manusia bernama Nietzche dan Sartre yang berkesimpulan bahwa Tuhan itu telah mati! (God is dead). Kalimat itu dikreasinya tentu bukan tanpa sebab. Menurut keduanya, Tuhan itu memang pernah mati dan hidup, lalu hidup dan mati berulang-ulang dalam otak dan pikiran manusia. Bagi keduanya, Tuhan itu tidak lebih hanyalah sebuah konsepsi tentang Dia yang Berada di Sana (hlm: 168). Jadi, bagi mereka Tuhan itu tak berwujud.

Namun, bagi kita sebagai satu-satunya makhluk yang sempurna, kita tentu sulit—untuk tak mengatakan mustahil— menerima pemikiran kedua filsuf itu. Sudah semestinya, kita harus ‘menemani-Nya’ saat Dia berada dalam kesepian. Karena hanya dengan menemani-Nya, itu berarti kita sadar diri bahwa kita adalah makhluk lemah yang tak berdaya yang membutuhkan pertolongan-Nya. Cara terbaik ‘menemani’ Tuhan adalah dengan selalu mengikuti apa yang diperintahkan-Nya dan menjauhi segala apa yang dilarang-Nya (takwa). Hanya dengan menemani-Nya, Tuhan akan senang dan mau mengabulkan segala apa yang kita minta.

Kehadiran buku ini bukan sekadar kritik untuk mengingatkan umat manusia yang terkadang masih cenderung ‘latah’ dalam beragama. Tapi lebih dari itu, penulisnya ingin mengajak mereka merenungi sekaligus memahami arti sebuah keberbedaan agar nantinya bisa tercipta masyarakat yang toleran dan saling memahami satu sama lain.

Ammar Machmud, pecinta buku. 
Dimuat di Majalah TEBUIRENG, Jombang

Berguru Kepada Penghafal Al-Quran

Rimanews.com, 3 Juli 2014
Rahasia Nikmatnya Menghafal Al-QuranJudul buku : Rahasia Nikmatnya Menghafal Al-Quran; Siapapun Anda, Anda adalah Penghafal Al-Quran
Penulis : D.M. Makhyaruddin
Penerbit : Nourabooks, Jakarta
Cetakan : I, Desember 2013
Tebal : 288 halaman

Menghafal Al-Quran itu aktivitas sulit sekaligus mudah. Sulit bagi yang tidak tahu caranya dan tak sabar menikmati prosesnya, tapi mudah bagi orang yang tahu caranya dan istikamah menikmati prosesnya. Menghafal al-Quran itu butuh niat dan nekat. Tanpa keduanya, tak mungkin seseorang rela bersusah-payah menghafal ribuan ayat dalam kitab suci tersebut.

Menghafal Al-Quran itu bukan persoalan cepat atau lambatnya tetapi bagaimana si penghafal itu bisa menikmati setiap lantunan ayat yang dihafalkannya dan tidak melupakannya. Faktanya, banyak orang cepat hafal Al-Quran hingga khatam, tapi sedikit yang selalu istikamah bergaul dengan Al-Quran setiap harinya.

Deden Muhammad Makhyaruddin, seorang hafiz kelahiran Cianjur sekaligus penulis buku ini, adalah salah seorang pemuda yang mampu menggemparkan dunia Islam Indonesia, bahkan dunia. Dia adalah salah sosok pemuda yang dianugerahi Allah bisa menghafal Al-Quran dari posisi nol hingga khatam hanya dalam tempo 56 hari. Meski begitu, dia tidak merasa bangga apalagi sombong, dia justru merasa gelisah jika apa yang telah dianugerahkan Allah kepadanya justru adalah sebuah teguran dari-Nya.

Menurut Ustaz Deden, menjadi hafiz Al-Quran itu mulia, bukan saja karena terbawa kemuliaan Al-Quran, tetapi lebih dipengaruhi pada adanya rasa cinta, cita-cita, niat tulus dan kesungguhan dari penghafalnya yang telah teruji. Ketika seseorang sudah cinta pada Al-Quran dan bertekad menghafalnyasampai khatam, maka segala kesulitan apapun yang menjadi penghambatnyapasti akan dihadapinya. Ketikacita-citanya belum tercapai, maka segala caraapapun dan sampai kapanpun dia pasti akan menempuhnya dengan penuh semangat.

Di buku ini, Ustaz Deden ingin membagi sedikit kisahnya dalam menghafal Al-Quran. Tujuannya bukan untuk membanggakan diri tetapi lebih pada berbagi pengalaman sekaligus sebagai motivasi dan inspirasi bagi siapa saja yang tergerak ingin menjadi penghafal Al-Quran.

Secara umum, buku ini terbagi menjadi tiga bagian; yakni I’dad (persiapan) menghafal Al-Quran, Kaifiyyah (cara) menghafal Al-Quran, dan muhafazahsebagai ikhtiar menghafal sepanjang hayat.

Bagian pertama adalah I’dad (persiapan). Pada bagian ini, Ustaz Deden memberikan tamsilan bahwa orang yang sedang berproses menghafal Al-Quran itu seperti prajurit yang telah menceburkan diri ke arena peperangan yang sarat beragam gejolak dan risiko. Untuk terjun ke arena tersebut tentu dibutuhkan perbekalan yang cukup dan persiapan yang matang agar dia tidak terpental ke belakang atau justru mati sebagai pecundang (hlm: 25). Maksudnya, penghafal Al-Quran itu harus selalu siap dengan segala konsekuensi yang akan dihadapinya dalam proses menghafal al-Quran.

Lalu bagian kedua adalah kaifiyyah (cara) menghafal Al-Quran. Sebenarnya ada banyak metode yang bisa digunakan penghafal al-Quran dalam proses menghafalnya. Namun, menurut Ustaz Deden, yang terpenting bukan apa metodenya, tetapi seberapa istikamah si penghafal bisa melaksanakan metodenya atau seberapa nikmat dia dalam menghafal kalam Ilahi.

Menghafal Al-Quran itu tak perlu terburu-buru, karena sejatinya Al-Quran adalah hidangan terlezat untuk dinikmati sepanjang hayat. Tentang metode apa yang digunakan, tempat mana yang favorit, waktu apa yang paling baik, berapa banyak hafalan yang harus ditambah dan didaras adalah beberapa persoalan yang pasti masing-masing di antara penghafal memiliki kapablilitas berbeda-beda. Oleh karenanya, menghafal al-Quran itu sekali lagi bukan persoalaan cepat atau lambatnya tapi seberapa nikmat dan berkualitas ayat yang dihafalkannya itu.

Sedangkan bagian yang ketiga adalah muhafazah (penjagaan) atau dalam istilah lain biasa disebut murajaah (mengulang-ulang)hafalan. Berapapun banyaknya hafalan yang sudah dihafal jika tidak pernah didaras atau diualangi niscaya hafalan itu akan hilang. Ibarat seseorang mengisi air di ember bocor. Berapapun banyaknya ember itu diisi air tapi jika bocor pasti ember itu tidak akan terisi air sedikitpun. Namun, hal ini masih beruntung jika si penghafal masih memiliki semangat juang yan membara untuk mendarasnya.

Penulis buku yang juga juara 1 musabaqah al-Quran internasional kategori tahfiz 30 juz dan tafsirnya di Casablanca, Maroko ini telah mengajarkan kepada kita bahwa menghafal al-Quran itu sejatinya bukan sekadar aktivitas mengomat-ngamitkan mulut untuk mendaras ayat al-Quran tapi ia juga berusaha menyakinkan kepada umat Muslim bahwa menghafal al-Quran adalah usaha paling riil bagi penghafal al-Quran untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah. Oleh karenanya, berguru kepada ‘pendekar’ al-Quran seperti ustaz Deden adalah pilihan yang tak perlu diragukan lagi.

Buku ini bukan sekadar mengulas pengalaman Ustaz Deden dalam menghafal al-Quran tapi juga menyuguhkan motivasi sekaligus tantangan bagi umat Muslim yang belum tergerak menghafal al-Quran agar mereka bisa tergerak dan ikut serta ambil bagian menjadi penjaga kalam Ilahi.[]
Ammar Machmud, editor freelance

AMALAN PEMBUKA REZEKI

AMALAN PEMBUKA REZEKIJudul Buku : Amalan Pembuka Rezeki
Penulis : Haris Priyatna & Lisdy Rahayu
Penyunting : Ammar Machmud
Penerbit : Bunyan-Bentang Pustaka
Cetakan : I, Juni 2014
ISBN : 978-602-291-030-5
Harga : Rp 39.000,-

Sinopsis:
Kita sering terpana atas rezeki yang tidak terduga. Kehadirannya tidak bisa dinalar. Tahu-tahu kita mendapat rezeki begitu saja. Mengapa bisa demikian? Bagaimana sebetulnya cara kerjanya? Lalu bagaimana kita bisa mendapatkan keajaiban rezeki tak terduga itu?

Allah Swt. telah mengajarkan kita amalan-amalan yang perlu kita lakukan agar pintu-pintu rezeki selalu terbuka lebar. Selain memaparkan hal di atas, buku ini juga sarat dengan kisah-kisah inspiratif dari para pelaku amal saleh yang terbukti rezekinya mengalir deras.

Lika-Liku Jalan Hidup Sang Pendidik

Suara Merdeka, Selasa 08 April 2014

ANIES BASWEDANJudul buku : Melunasi Janji Kemerdekaan, Biografi Anies Rasyid Baswedan
Penulis : Muhammad Husnil
Penerbit : Zaman, Jakarta
Cetakan : I, Maret 2014
Tebal : 300 halaman

Mengubah Indonesia menjadi negara maju dan berperadaban tinggi di mata dunia internasional tentu bukan perkara mudah. Butuh perjuangan keras, panjang dan ikhtiar ekstra.

Aspek paling realistis dan paling utama untuk membangun bangsa Indonesia adalah pendidikan, karena pendidikan adalah tolok-ukur peradaban suatu bangsa. Jika pendidikan suatu negara itu berkembang pesat, maka berkembang pesat pulalah aspek lainnya. Pendidikan adalah penentu perubahan suatu bangsa.

Salah satu tokoh inspiratif dalam bidang pendidikan di Indonesia yang patut diteladani cara berpikir dan rekam jejaknya adalah Anies Rasyid Baswedan. Dia salah satu tokoh pendidikan inspiratif yang bisa dikatakan sebagai sosok ‘pendidik sejati’. Buku biografi karya Muhammad Husnil ini bermaksud memotret lika-liku perjalanan kariernya dari semasa bocah, menjadi aktivis di berbagai organisasi saat remaja, menjadi intelektual publik, serta sebagai tokoh nasional sekaligus internasional.

Kontribusi Anies untuk negara ini sungguh sangat banyak. Dalam bidang pendidikan, dia memelopori gerakan mengajar bagi para pemuda bangsa yang diberi nama Gerakan Indonesia Mengajar (GIM). Tujuan dari GIM ini, kata Anies, adalah untuk menyiapkan para pengajar muda yang mau dan mampu mengajar di daerah-daerah terpencil selama setahun. Selain itu, tujuan jangka panjangnya adalah untuk mencetak para calon pemimpin negara di masa depan yang mampu fasih berbicara di tingkat internasional namun mereka juga masih tetap memiliki pijakan yang kuat di tingkat lokal (hlm: 237-238).

Tidak hanya itu, Anies juga menawarkan beasiswa dengan kuota sebanyak 25 % bagi para calon mahasiswa yang kurang atau tidak mampu secara ekonomi tetapi punya potensi mumpuni menjadi pemimpin di masa depan. Mereka berkesempatan mendaftarkan dirinya di Universitas Paramadina, Jakarta.

Terjun ke Politik
Buku ini juga mengurai ide-ide segarnya dalam bidang politik. Meski saat ini, Anies belum bisa dikatakan sebagai politisi ulung, tapi setidaknya pelbagai ide dan pemikirannya ihwal politik sudah bisa mewarnai perpolitikan negara ini, apalagi kini ia dengan tegas sudah menyatakan dirinya sebagai salah satu capres yang siap bertarung dalam pilpres Juli 2014 nanti.

Dalam sebuah wawancara, saat ditanya mengapa dia ikut terlibat dalam pilpres? Dia menjawab, “Saya pilih berbuat, saya pilih berjuang mengembangkan negara ini. Tentunya, dengan cara yang benar dan bersama dengan orang-orang yang baik, karena itu saya ajak Anda ikut turun tangan, ikut berjuang”

Selain itu, dia mencalonkan diri sebagai capres semata-mata karena dia diundang dan dia pun menerima undangan tersebut. “Jika saya tidak diundang maka saya tetap akan meneruskan yang selama ini saya kerjakan, yakni ikut mencerdaskan kehidupan bangsa. Tapi begitu saya terima undangan itu, maka saya nyatakan siap dan pilih berkemas untuk berjuang dalam pencalonan melalui konvensi. Saya pilih untuk ikut bertanggungjawab atas perjalanan bangsa ini.”katanya

Sebenarnya buku ini belum pantas disebut sebagai biografi. Karena isinya masih berupa pinggiran sosok Anies Baswedan. Buku ini lebih layak disebut memoar, karena isinya baru memuat pelbagai perjalanan hidupnya dari masa kecil hingga kini. Meski demikian, buku ini, sudah cukup memadai dalam memotret sosok Anies. (Ammar Machmud).

BISNIS ALA NABI

BISNIS-ALA-NABIJudul : Bisnis ala Nabi, Teladan Rasulullah Saw. dalam Berbisnis
Penulis : Mustafa Kamal Rokan
Penyunting : Ammar Machmud
Desain Sampul : labusiam
Pemeriksa Aksara: Titis A.K.& Tristanti
Penata Aksara : BASBAK_Binangkit
Penerbit : Bunyan-Bentang Pustaka, Yogyakarta
Cetakan : I, November 2013
ISBN : 978-602-7888-67-8
Harga : Rp 49.ooo,-

SINOPSIS:
Sejak belia, Nabi Muhammad Saw. telah menunjukkan bakat bisnisnya. Tak aneh jika kemudian pada saat menjadi pemimpin ummah,Rasulullah Saw. tercatat sebagai pengambil kebijakan ekonomi yang strategis melalui Piagam Madinah. Di sini, Rasulullah menunjukkan kelasnya sebagai pemimpin dengan membuat Piagam Madinah yang berisikan aspek-aspek ekonomi secara egalitarian.
Lewat buku ini, penulis menunjukkan bahwa ekonomi syariah bukan sekadar label, melainkan mengalir dalam setiap tetes air kehidupan untuk mewujudkan dunia yang damai sekaligus sejahtera.
Buku ini memperlihatkan cara Rasulullah Saw. mewujudkan ekonomi syariah tersebut.