Senjaputih's Blog

Maret 18, 2012

Konsumerisme,’Kufur’

Filed under: Artikel — senjaputih @ 6:47 am
Tags: , ,

Tulisan ini dimuat di Majalah Arwaniyyah edisi XI, Maret 2012

“Tidak akan datang hari kiamat, sehingga kalian hidup dalam bergelimang harta. Dan menjadi tumpah ruahlah harta itu, sehingga si pemilik harta sangat ingin ada pihak yang mau menerima sedekahnya. Bahkan, ia menawarkan sedekahnya itu kepada orang-orang. Akan tetapi orang yang ditawari berkata: “Saya tidak ada urusan atas perkara itu.” (HR. Bukhari)

Keluarga Wijaya hidup dengan tampilan wajah yang glamor, super mewah. Pak Wijaya, kepala rumah tangga, sekali dalam seminggu main golf di Bukit Permai, sekadar refreshing setelah lelah menghabiskan sedikit milyaran rupiah untuk berburu barang antik koleksinya. Bu Wijaya, sang ibu rumah tangga, aktif di tiga jamaah arisan, sehingga ia harus tiga kali dalam seminggu, hadir dari satu arisan ke arisan yang lain, dengan baju baru, perhiasan baru, dan gosip baru tentunya. Wijayanto, putra pertamanya, hari-harinya habis untuk memoles mobil koleksinya. Sementara Wijayanti, putri kedua, tak mau ketinggalan pekan di sudut mall, maklum karena ia sudah menjadi anggota jamaah penggila belanja.

Keluarga Wijaya seperti diatas adalah sedikit gambaran dari mental sebagian besar masyarakat kita. Kebanyakan mereka ingin hidup serba mewah, terlepas apakah semua orang mampu atau tidak.

Konsumsi: “bakat” dari Allah

Sejak lahir, manusia memang punya bakat sekaligus fitrah sebagai konsumen. Di banyak kesempatan, Al-Qur’an menjelaskan sekaligus mempersilahkan kita untuk merayakan konsumsi. QS. Al-An’am: 141, Allah menyediakan hasil panen, ditegaskan kembali pada QS. Al-A’raf: 31, Allah mempersilahkan kita untuk makan dan minum dari hasil panen itu, QS. An-Nahl: 14, Allah telah menaklukkan lautan dan kita dipersilahkan mencicipi lezatnya daging ikan yang segar, lalu QS. An-Nahl: 8, Allah menyediakan kita kendaraan (kuda dan himar) sebagai alat transportasi dan gaya hidup. Intinya, manusia punya sifat konsumeris, sehingga wajar jika Allah “memanjakan” kita dengan pelbagai fasilitas, dan mempersilakan kita menikmatinya. Hanya saja, di antara kita jarang ada yang tahu, konsumsi yang bagaimanakah yang dikehendaki Allah?

Berangkat dari pertanyaan itu, kita akan memulai sebuah renungan yang khusyu’, apakah konsumsi yang kita rayakan selama ini sudah sesuai dengan kehendak Allah? Jangan-jangan, hasrat konsumerisme kita terlalu brutal, sehingga membuat kita tiba-tiba jauh dari agama?

Diakui atau tidak, manusia, apapun jenis kelamin dan jumlah usianya, cenderung berpikir segala sesuatu diukur dari besar-kecilnya materi yang dipunya, kecuali orang-orang yang bersemangat dan bangga menjadi miskin, ini beda kasusnya. Semakin besar materi seseorang, semakin besar pula gairah konsumsinya, tetapi belum tentu sebaliknya. Pendeknya, kita punya sindrom berjamaah bernama “konsumeris”.

Manusia rajin mengoleksi barang atau jasa, dengan tujuan agar apa yang disebut sebagai “kebutuhannya” bisa terpenuhi. Semakin tinggi mimpi seseorang, maka semakin tinggi pula pernik “kebutuhannya”. Orang yang ingin tampil glamor dan elegan, tidak hanya butuh sepotong pakaian kasar untuk menutupi auratnya. Untuk mimpi menggapai kemewahan, orang biasanya akan rela membayar mahal dengan pertimbangan merek, harga, kualitas dan perkembangan trend.

Apa dampaknya? Jelas, belanja bukan lagi dimaknai dan didasari pertimbangan kebutuhan, tapi keinginan nafsu. Dalam kondisi inilah kita disihir oleh mitos belanja bernama “kebutuhan semu”, sebuah gairah konsumsi brutal yang mengantarkan kita ke tepian agama.

Kebutuhan semu adalah penyakit sosial yang parah. Selama ini, kita jarang menyadari bahwa sebenarnya kita dijajah para kapitalis yang ingin meraup keuntungan. Modus penjajahan ini pun terbilang rapi. Para kapitalis “memerkosa” konsumen lewat ‘senjata’ bernama budaya massa, contoh konkrit: iklan.

Entah karena apa, kita begitu saja percaya  saat mendapat bisikan seperti ini; “cantik itu bedak merek A”, atau “trend fashion tahun ini adalah baju yang dipakai artis A, B, C”, dan seterusnya. Manusia disetir agar selalu membeli pelbagai produk yang ditawarkan oleh iklan. Singkatnya, manusia menjadi budak iklan.

 Media massa telah menularkan virus “kebutuhan semu”, kebutuhan yang sebenarnya kita kurang butuh atau bahkan sama sekali tidak butuh, tapi tiba-tiba kita merasa butuh karena telah disihir pengaruh media. Begitu, kenyataannya, sebagian dari kita telah kehilangan kendali konsumsi karena tertipu media massa. Lalu, kita bersorak menyanyikan semboyan baru, “Aku belanja maka aku ada”.

Konsumerisme: Membabibuta

Islam membincang konsumerisme dalam bahasa “al-isrof”, berlebih-lebihan.  Berulang-ulang dan seperti tak bosan, Al-Qur’an mengangkat tema “konsumerisme” sebagai kajian yang serius.

Mari kita simak apa kata Al-Qur’an; “Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan” (QS. Al-A’raf: 31). Ayat lain juga menguatkan; “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian” (QS. Al-Furqan: 62 dan 67).

Inti kombinasi kedua ayat ini, Allah benci pada orang yang berlebih-lebihan (konsumeris). Allah ingin makhluknya yang bernama manusia itu menasarufkan (membelanjakan) hartanya secara wajar dan proporsional. Sekali lagi, tidak berlebih-lebihan.

Ihwal definisi berlebih-lebihan (al-isrof), Imam Al-Karmani seperti dikutip Abu Bakar Muhammad Syatha Ad-Dimyati dalam I’anah al-tholibin menjelaskan bahwa, berlebih-lebihan (idho’at al-mal) adalah membelanjakan harta di atas kadar kebutuhan manusia, sehingga dapat berpotensi menyia-nyiakan harta. Lantas, sampai batas manakah atau berapakah manusia bisa dikatakan berlebih-lebihan?

Sebelum dijawab, idealnya kita mengetahui rumusan tentang kebutuhan manusia menurut Imam Al-Syatibi. Dalam master piece-nya, Al-Muwafaqat, beliau menjelaskan bahwa, kebutuhan manusia meliputi tiga kategori. Pertama, kebutuhan primer (maslahat dlaruriyyah), adalah kebutuhan yang sekiranya tidak terpenuhi, dapat berakibat fatal, yakni hilangnya lima kebutuhan dasar (al-kulliyat al-khamsah), yakni; nyawa, agama, akal, keturunan dan harta. Kedua, kebutuhan sekunder (maslahat hajiyyah), adalah kebutuhan yang sekiranya tidak terpenuhi, maka manusia mengalami kesulitan atau kesengsaraan hidup, seperti rumah, alat transportasi. Ketiga, kebutuhan tersier (maslahat tahsiniyyah), kebutuhan yang sekiranya tidak terpenuhi, maka berakibat hidup manusia menjadi kurang nyaman.

M. Quraish Shihab dalam tafsirnya, Al-Misbah, menjelaskan bahwa batasan berlebih-lebihan (al-isrof) yang dimaksud dalam QS: Al-Furqan: 67 adalah melampaui batas kewajaran kondisi orang yang memberi nafkah dan yang diberi nafkah. Jadi, meskipun anda kaya-raya, anda tercela jika memberikan nafkah untuk anak kecil yang melebihi kebutuhan hidupnya. Anda juga tercela jika memberi nafkah orang dewasa yang butuh lagi mampu bekerja, hanya sebanyak pemberian anda kepada sang anak itu. Ringkasnya, membelanjakan harta itu harus proporsional, sesuai dengan kadar kebutuhan (Al-Misbah, vol 9: 151-152).

Berlebih-lebihan, “Kufur”?                                                                                                                     

Berlebih-lebihan adalah satu dari sederet perangai dosa manusia yang dibenci Allah. Al-Qur’an jelas menyebut “sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan” (QS. Al-A’raf: 31).

Pertanyaannya sekarang, mengapa Allah membenci orang yang hedonis, berlebih-lebihan? Mari kita bermenung sembari meraba diri!

Alasan pertama, menerjang perintah. Laku hedonis dan konsumeris tidak sesuai dengan seruan Allah dan uswah (teladan) Rasulullah. Seperti diungkap Iyas bin Mu’awiyah, bahwa segala sesuatu yang melebihi kadar yang diperintahkan Allah adalah isrof. Allah telah menentukan batasan pemenuhan kebutuhan yang kemudian dipraktikkan Rasulullah. Baginda nabi bahkan mengganjal perutnya dengan batu, tidur cukup di atas pelepah kurma, dan suatu ketika beliau mneyeru para sahabat agar tidak makan sebelum lapar dan berhenti sebelum kenyang.

Kedua, menyuburkan nafsu. Orang yang banyak makan, nafsu dan syahwatnya kian menggebu, sehingga mudah terjerumus ke lembah maksiat. Begitupun mereka yang hidupnya glamor, elegan, mudah dirayu setan untuk mengumbar riya’ (pamer) dan takabbur (sombong). Jelas, sifat-sifat ini adalah ciri khas sahabat setan.

Ketiga, menyia-nyiakan harta (tabdzir). Orang yang hidupnya bergelimang harta, semua dibelanjakan, tidak mungkin memanfaatkan hartanya dengan maksimal, bahkan sebagiannya tidak bermanfaat. Contoh sederhana, orang yang dalam setahun mengoleksi baju sebanyak tiga almari, misalnya. Orang-orang seperti ini adalah sahabat setan. Al-Qur’an jelas menyebutnya dalam surat Al-Isra: 27, “Sesungguhnya para pemboros itu adalah saudara-saudara setan”.

Keempat, sumber ketidakadilan sosial. Ketika seseorang memiliki harta dan terburu-buru dibelanjakan secara brutal, mustahil ia memiliki harta satu nisab dalam satu tahun, akhirnya, mereka tidak mau mengeluarkannya dengan dalih tidak wajib zakat.

Al-Qur’an surat Al-An’am: 141 menyeru manusia untuk memberikan sebagian hasil panen kepada yang berhak, setelah menyisihkan untuk kebutuhan konsumsi. Kelanjutan ayat ini, “jangan berlebih-lebihan”, menurut Imam Abi Muslim, dikutip dalam tafsir al Alusy, Allah melarang berlebih-lebihan mengonsumsi hasil panen, sehingga semuanya habis dan tidak ada hak fakir miskin yang tersalurkan. (Ruh al Ma’aani, juz 6: 44)

Konsumerisme menjadi biang ketidakadilan sosial, karena si kaya berfoya-foya, sehingga lupa mendermakan harta, maka si miskin pun semakin terpuruk dalam penderitaan. Nikmat Allah tidak terdistribusi secara adil dan merata, gara-gara masyarakatnya hedonis.

Jika sudah demikian, semboyan bahwa Islam adalah “rahmatan lil alamin” (rahmat bagi seluruh alam), tinggal jadi isapan jempol belaka. Dan, ini adalah dosa para penggila belanja.

Kelima, merusak lingkungan. Kekhawatiran malaikat, seperti dilansir dalam QS. Al-Baqarah: 30, ketika Allah mengumumkan akan menurunkan khalifah (manusia) di bumi, yang, kata malaikat hanya akan merusak bumi, telah benar-benar terbukti. Nyatanya, bumi semakin rusak akibat ulah manusia.

Bagaimana manusia merusak bumi? Dengan banyak modus, salah satunya adalah mengeksploitasi alam secara membabibuta. Imbasnya, selain kelangkaan energi dan Sumber Daya Alam (SDA), sampah, limbah dan polusi menjadi masalah paling sulit dipecahkan setelah korupsi, politik uang dan mafia hukum.

Menjadi Konsumen Saleh

Segala hal yang dimiliki manusia adalah titipan Allah. Sementara manusia sendiri tidak ‘pecus’ berbuat apa-apa, yang ia bisa hanya mengakui hak cipta kreatif Allah. Begitu Allah membeberkan kelemahan manusia dalam QS. Yaasin: 71, “Dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya kami telah menciptakan binatang ternak untuk mereka yaitu sebahagian dari apa yang telah kami ciptakan dengan kekuasaan kami sendiri, lalu mereka menguasainya?”.

Allah mengijinkan manusia menikmati segala pemberian-Nya, dengan catatan, mereka mau bersyukur. Janji Allah dalam Al-Quran, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih” (QS. Luqman: 14).

Salah satu cara bersyukur kepada-Nya adalah dengan tidak berlebih-lebihan. Artinya, memanfaatkan harta secara proporsional sesuai dengan huduud (batasan) Allah, sehingga tidak menyuburkan nafsu buruk, tidak menyia-nyiakan harta, dapat membuka kesempatan sedekah dan tidak merusak lingkungan. Inilah profil konsumen yang saleh, konsumen yang bijak membelanjakan harta, sehingga dapat menuntunnya menjadi hamba Allah yang sempurna (min ibadillah al kamil).

Menyitir sebuah ayat tentang salah satu sifat hamba-Nya yang sempurna dalam firmannya, “Dan orang-orang yang apabila bernafkah, mereka tidak berlebih-lebihan dan tidak (pula) kikir, dan adalah ia pertengahan antara keduanya.” (QS. Al-Furqan: 67).

Jadi, ciri-ciri hamba Allah yang sempurna adalah mereka yang bijak membelanjakan hartanya. Jika redaksi ayat ini dipahami secara terbalik (mafhum mukholafah), maka orang yang berlebih-lebihan masih diakui sebagai hamba Allah, namun kualitas pengebdiannya sebagai mu’min tidak atau belum sempurna.

M. Quraish Shihab menegaskan bahwa untuk menjadi konsumen yang saleh kata kuncinya adalah “qawaman” (pertengahan), yang berarti adil atau moderat. Artinya, manusia seharusnya dapat memelihara hartanya, tidak berfoya-foya, tapi juga tidak pelit. Sebagai solusi, pada akhir ayat itu, Allah swt memerintahkan kepada pemberi nafkah agar bersikap moderat, artinya sesuai kebutuhan dan kewajaran.[]

*Penulis adalah Ammar Machmud, pegiat di  Arwaniyyah Institute, Kudus

Februari 23, 2012

Tragedi Toga Dibalik Wisuda

Filed under: Esai — senjaputih @ 8:53 am
Tags: , , , ,

Oleh: Ammar Machmud

Dalam hiruk-pikuk selebrasi wisuda, toga menjelma bagai “jas presiden” yang pantas diagung-agungkan. Toga mengabarkan pada khalayak bahwa seorang anak manusia bernama mahasiswa telah selesai masa studinya di universitas dengan raihan gelar bertajuk sarjana, master, atau doktor. Toga mengukuhkan kuasa serta identitas mahasiswa menjadi manusia merdeka. Ya, manusia yang merdeka dari kungkungan pelbagai tugas kuliah dan tetek-bengek urusan perkuliahan.

Aneh kedengarannya, jika wisudawan atau wisudawati tak mengenakan toga saat wisuda tiba. Entah fenomena ini telah menjadi tradisi wajib para akademisi saat wisuda tiba, atau sekadar selebrasi event yang bisa saja diganti jika sudah tak relevan dengan zamannya. Yang pasti, toga telah ditafsir wisudawan atau wisudawati sebagai simbol kesuksesan studi.

Sadar atau tidak, toga yang seharusnya menjadi simbol kewibawaan bagi para sarjana, alih-alih justru menjelma menjadi tragedi yang memilukan, bahkan menyengsarakan. Toga menjadi tragedi, tatkala sarjana tak kuasa memaknainya secara kritis. Toga yang semula menjadi kawan saat wisuda, bisa jadi akan menjadi lawan saat pesta-pora wisuda usai. Ya, toga menjadi lawan yang akan “menertawakan” sinis pada sarjana, jika sarjana tak mampu memberikan kontribusi riil atau sekadar mendistribusikan ilmunya bagi masyarakat sekitarnya.

Secara tak sadar, selama ini sebenarnya toga telah berhasil mengelabuhi asumsi seorang sarjana bahwa toga adalah segalanya, —pengakuan status kesarjanaan— sehingga harus dikejar mati-matian. Padahal, jika kita mau berpikir kritis sejenak, toga sebenarnya ingin menagih obralan janji mahasiswa  penyeru “agen perubahan sosial” yang digembar-gemborkan dahulu. Sudahkah mereka menjadi agen perubahan sosial?

Bagi saya, toga tak lebih seperti sarung atau celana bagi muslim saat sembahyang mengahadap Tuhannya. Toga hanyalah simbol formal selebrasi hajatan universitas berjudul wisuda. Selebihnya, toga tak beda dengan pakaian lainnya. Meski begitu, toga bukan berarti miskin makna. Toga tetaplah busana sakral bagi para pemakainya (wisudawan/wisudawati), karena di dalam toga tersemat pelbagai makna agung.

Tafsir Toga vis a vis Kontribusi Sarjana

Dalam toga tersimpan pelbagai makna lewat sematan simbol dan tanda yang unik. Bicara soal simbol dan tanda, otomatis bicara  semiotika budaya (cultural semiotic). Roland Barthes —semiotisi asal Perancis— pernah menyatakan, simbol yang tercipta dalam sebuah medium yang bersifat masif merupakan representasi dari budaya yang ada (Peter Pericles Trifonas: 2003). Jadi, jika dulu toga hanya dikenal bangsa Romawi kuno sekitar abad 1300 SM sekadar sebagai pakaian yang dililitkan ke tubuh saat dalam ruangan, maka kini, derajat toga telah tinggi dan menjadi budaya pakaian kaum akademisi yang dipakai hanya saat event tertentu seperti wisuda.

Jika kita mau menilik eksistensi toga, setidaknya terdapat tiga simbol dengan tiga makna yang unik dan berbeda dalam tubuh toga. Yakni, warna hitam pada toga, topi toga berbentuk persegi, dan kuncir tali di topi toga.  Pertama, warna hitam pada toga. Seperti jamak diketahui, hitam merupakan simbol misteri dan kegelapan. Nah, misteri dan kegelapan inilah yang harus dikalahkan oleh para sarjana. Dengan sematan warna hitam, diharapkan para sarjana mampu menyibak kegelapan dengan pelbagai ilmu pengetahuan yang selama ini telah didapat. Ilmu pengetahuan adalah harga mati bagi para sarjana. Sejauh mana mereka mau mentransformasikan ilmunya pada masyarakat. Selain itu, warna hitam juga berarti keagungan. Maka dari itu, selain sarjana, hakim dan pemuka agama pun memakai toga dengan warna hitam. Jadi, sarjana adalah teladan masyarakat. Tak sepantasnya jika mereka menyalahi norma.

Kedua, topi toga berbentuk persegi. Topi toga berbentuk persegi menyimbolkan bahwa seorang sarjana dituntut mampu berpikir rasional, dan memandang segala sesuatu dari pelbagai sudut pandang secara komprehensif. Idealnya, sarjana harus mampu berpikir multidisipliner, tak rigid, dan tak eksklusif, dengan harapan agar tidak timbul klaim-klaim kebenaran yang berpotensi lahirnya konflik.

Ketiga, kuncir tali di topi toga. Saat penyerahan ijazah sarjana, master, atau doktor, biasanya kita mengamati adanya seremonial pindah kuncir tali yang semula dari kiri kemudian digeser ke kanan. Ini tentu bukan tanpa makna. Ini pertanda bahwa ketika sudah menjadi wisudawan atau wisudawati, mereka dituntut agar lebih mengandalkan otak kanannya —yang meniscayakan kreativitas dan inovatifitas pengembangan ilmu pengetahuan— ketimbang penggunaan otak kiri yang cenderung hanya berfungsi menerima asupan ilmu pengetahuan.

Terlepas dari tafsir toga, persoalan mendesak saat ini adalah sudahkah para sarjana, master, dan doktor memberikan kontribusi riil pada masyarakat sekitarnya? Idealnya, wisuda tak kemudian diartikan sebagai selesainya masa studi dengan raihan gelar dan “keberhasilan semu”, tapi wisuda lebih tepat diartikan sebagai memulai belajar dengan realitas kehidupan yang penuh dengan problematika akut. Kuliah, barulah belajar dengan segudang teori dengan bertebal buku, maka pasca lulus, wisudawan “ditantang” sejarah untuk membuktikan sejauh mana ia mampu menyelesaikan peliknya problem realitas sosial kemasyarakatan.

Bagi sebagian mahasiswa mencapai status wisudawan atau wisudawati adalah hal penting, tapi berpikir serta bertindak realistis selepas mendapat status wisudawan atau wisudawati justru lebih penting. Kontribusi adalah jawabannya. Pencarian status kesarjanaan tetaplah menjadi prioritas utama para mahasiswa, tapi pengabdian trilogi kemahasiswaan tetap menjadi hal niscaya. Sekali lagi, teriakan “agen perubahan sosial” yang biasanya menggema di sudut-sudut kampus hendaknya tak sekadar lipstik belaka, tetapi harus menjadi laku riil. Andakah agen perubahan sosial itu?

Dimuat di Majalah IDEA, edisi XXXI, Januari 2012


Februari 6, 2012

Warung Ibuku, Nafas Hidup Asaku

Filed under: Cerpen — senjaputih @ 8:49 am
Tags: ,

Cerpen: Ammar Machmud*

Warung makan warisan almarhumah nenekku yang terletak di pinggir jalan desa Ngembalrejo itu sudah buka sejak puluhan tahun yang lalu, tepatnya sekitar 30 tahun silam. Meski sederhana dan kecil, warung itu telah menorehkan pelbagai kisah suka-duka. Dari hasil jualan warung itulah, semua kebutuhan keluargaku dapat terpenuhi.

Setelah nenekku meninggal dunia pada 2007 lalu, kini ibuku yang melanjutkan usaha warung itu. Warung ibuku sangat sederhana sekali. Menu yang disuguhkan pun tak selengkap warung makan atau restoran di kota-kota besar. Menu yang disediakan di warung ibuku meliputi nasi pecel, nasi lodeh, nasi rames, getuk**, ketan basah dan aneka gorengan. Sedangkan minumannya meliputi teh, kopi, dan susu. Terbilang sangat sederhana memang, tapi jangan salah karena hasil usaha dari warung itulah, ibuku bisa membiayaiku hingga selesai kuliah sarjanaku.

Ibuku membuka warung pada pagi hari saja, antara pukul 05.30 wib hingga 10.00 wib. Ini dikarenakan ibuku tidak memiliki pembantu khusus yang membantu pekerjaan ibuku. Selain itu, secara ekonomi, keluargaku bisa dibilang pas-pasan dan belum mampu menyewa tenaga pembantu. Jadi, kedua orangtuaku lah yang melakukan semua pekerjaan itu secara mandiri.

Meski dengan segenap keterbatasan itu, orangtuaku tak pernah mengeluh apalagi putus asa. Justru, orangtuaku lah yang selalu mengajariku agar menjalani hidup dengan percaya diri, semangat bekerja, serta tidak lupa berdoa, meski kondisi kehidupan tidak senikmat apa yang diharapkan.

“Urip iku mung mampir ngombe, le. Dadi menungso ojo grundelan, sing penting ikhtiar tenanan lan ojo lali donga marang Sang Kuasa, ben uripmu kepenak donya-akhirate”,*** begitu pesan ibuku yang masih terngiang hingga kini.

Sejak tahun 2007, semua pekerjaan dapur ibuku hanya dibantu oleh ayahku. Maklum, karena ibuku hanya memiliki 3 anak, tetapi masing-masing dari mereka memiliki rutinitas yang tak bisa ditinggalkan. Jaelani, kakakku, sudah lama sekali merantau di Bandung. Bahkan, ia sudah beristri dan punya anak. Aku sendiri, saat itu, masih kuliah di Semarang, dan baru pulang ke rumah biasanya setiap satu bulan sekali. Sedangkan Dina, adikku, masih sekolah Madrasah Ibtidaiyyah (MI) di pagi hari, dan siang harinya, dia sekolah Madrasah Diniyyah. Singkat kata, usaha warung ibuku hanya dijalankan oleh ibu dan ayahku.

Kegiatan masak-memasak, biasanya dilakukan ibuku pada malam hari sehabis salat isya’ bersama ayahku. Luar biasanya, jika masakan yang dimasak banyak, ibuku memasak makanan terkadang hingga larut malam. Padahal, sekitar jam 03.30 dini hari, ibuku sudah harus bangun lagi untuk menyajikan aneka masakan untuk ditata di warung makan, sebab saat Subuh tiba biasanya sudah ada penjaja yang menyambangi warung ibuku.

Meski secara fisik pekerjaan ibuku terbilang berat dan melelahkan, tapi beliau tak pernah pesimis apalagi putus asa. Semua itu beliau jalani dengan percaya diri sembari mengharap ridla Ilahi. Prinsip beliau adalah selagi manusia masih bisa bernapas, maka tak ada manusia di dunia ini yang tak diberikan rejeki oleh Sang Kuasa. Rejeki itu sudah diatur oleh Sang Kuasa, tinggal manusia mau berusaha atau tidak.

***

Menjalankan usaha jualan makanan siap saji di warung tidaklah semudah membalikkan kedua telapak tangan. Butuh pengorbanan luar biasa dan tekad membaja. Dan itulah yang telah dialami ibuku selama beberapa tahun ini.

Bayangkan saja, jika makanan yang dijajakan masih tersisa banyak, hendak diapakan makanan itu? Jika dimakan sendiri untuk keluarga sangat berlebihan. Jika dibuang, akan percuma dan mubadzir. Lantas, untuk menyiasati hal itu, biasanya ibuku menjualnya lagi ke pasar terdekat rumahku dengan harga yang lebih murah dari harga jual biasanya. Ini dilakukan agar makanan yang ada tidak mubadzir dan terbuang percuma, sebab kebanyakan makanan yang tersaji adalah makanan basah. Jadi, tidak mungkin awet dan bisa dimakan lagi besok, jika tidak dimakan sesegera mungkin.

Meski warung ibuku sederhana, setiap hari libur nasional atau hari Ahad, alhamdulillah warung ibuku ramai dikunjungi para penjaja. Alhasil, ibuku pun lumayan meraup rupiah. Mungkin itu sisi keuntungannya. Namun, saat warung sepi penjaja, tak jarang ibuku harus memutar otak untuk menjajakannya kembali ke pasar atau jika memang terpaksa tidak laku, maka dengan kerelaan hati, ibuku pun memberikannya kepada tetanggaku yang membutuhkan.

Ibuku tak pernah menyesali hasil usahanya dari menjual makanan di warung. Jika hari ini makanan yang dijajakan habis sehingga bisa meraup rupiah, namun pada hari berikutnya sepi penjaja sehingga masih banyak menu masakan yang tersisa, maka ibuku selalu menasehatiku dengan ucapannya yang santun, “ikhtiar kuwi wajib le, tapi keputusan iku kuasane Pengeran” , demikian tuturnya.

Selain percaya diri dan semangat bekerja, ibuku juga menasehatiku agar aku jangan pernah menyerah dan takut untuk mengerjakan kebajikan. Orang yang takut berbuat kebajikan adalah orang yang tak siap sukses. Kesuksesan diperoleh bukan dalam sekejap mata, melainkan lahir dari proses panjang dan berani bersimbah luka serta bermandikan keringat. Hasil adalah tujuan dari segalanya, tetapi segalanya tak akan menjadi hasil tanpa proses yang melelahkan.

Hingga kini, sehari-harinya penghasilan keluargaku bergantung pada warung itu, kecuali bulan Ramadan. Pada bulan Ramadan, ibuku memilih menutup warung makan, dan mengganti bisnisnya dengan memproduksi jajanan lebaran, mulai dari kue semprit, kue pril, bolu kering, dan terkadang membuat madumongso juga. Sementara aku dan adikku yang mengantarkan pesanan kepada pembeli. Tetapi, kadang langganan ibuku datang sendiri ke rumahku saat menjelang lebaran tiba.

Harus aku akui, perjuangan orangtuaku, terutama ibuku, sungguh sangat luar biasa. Beliau tak hanya menjadi pahlawan bagiku, karena telah rela memeras keringatnya demi kesuksesanku, tetapi ibuku jua lah yang selalu mengajarkanku kesabaran, keuletan, dan kesahajaan. Sementara ayahku cenderung mengajarkan padaku keberanian dalam bertindak sebagai bekal menjadi imam bagi istri kelak jika aku sudah berumah tangga.

Secara otomatis, warung ibuku telah menjadi nafas asaku. Berkat hasil jerih payah ibuku dari jualan nasi setiap paginya, Alhamdulillah kuliah S1-ku selesai tepat waktu, bahkan Alhamdulillah aku pun bisa meraih nilai cumlaude (istimewa). “Terimakasih Ma.., Sampai kapanpun, engkau adalah pahlawan sejati bagiku, Doamu selalu kuharap untuk kesuksesan-kesuksesanku selanjutnya..!”, bersitku dalam hati.

*Cerpen ini merupakan naskah penulis yang mendapatkan juara III Lomba Cerpen Tema Peran Orangtua yang diselenggarakan oleh Dhee Shinzy,dkk dan dibukukan menjadi buku berjudul “Hadiah Kecil untuk Orangtua” (Leutika Prio, 2011)

**Makanan khas Jawa tengah dari ketela, biasanya dicampuri parutan kelapa.
***Bahasa Jawa: hidup itu sekadar mampir minum, nak. Maka, jangan jadi manusia yang suka mengeluh, yang penting berusaha maksimal dan jangan lupa berdoa kepada sang Kuasa agar hidupmu bahagia dunia-akhirat.

« Halaman SebelumnyaHalaman Berikutnya »

Tema: Rubric. Blog pada WordPress.com.