Oleh: Ammar Machmud
Dalam hiruk-pikuk selebrasi wisuda, toga menjelma bagai “jas presiden” yang pantas diagung-agungkan. Toga mengabarkan pada khalayak bahwa seorang anak manusia bernama mahasiswa telah selesai masa studinya di universitas dengan raihan gelar bertajuk sarjana, master, atau doktor. Toga mengukuhkan kuasa serta identitas mahasiswa menjadi manusia merdeka. Ya, manusia yang merdeka dari kungkungan pelbagai tugas kuliah dan tetek-bengek urusan perkuliahan.
Aneh kedengarannya, jika wisudawan atau wisudawati tak mengenakan toga saat wisuda tiba. Entah fenomena ini telah menjadi tradisi wajib para akademisi saat wisuda tiba, atau sekadar selebrasi event yang bisa saja diganti jika sudah tak relevan dengan zamannya. Yang pasti, toga telah ditafsir wisudawan atau wisudawati sebagai simbol kesuksesan studi.
Sadar atau tidak, toga yang seharusnya menjadi simbol kewibawaan bagi para sarjana, alih-alih justru menjelma menjadi tragedi yang memilukan, bahkan menyengsarakan. Toga menjadi tragedi, tatkala sarjana tak kuasa memaknainya secara kritis. Toga yang semula menjadi kawan saat wisuda, bisa jadi akan menjadi lawan saat pesta-pora wisuda usai. Ya, toga menjadi lawan yang akan “menertawakan” sinis pada sarjana, jika sarjana tak mampu memberikan kontribusi riil atau sekadar mendistribusikan ilmunya bagi masyarakat sekitarnya.
Secara tak sadar, selama ini sebenarnya toga telah berhasil mengelabuhi asumsi seorang sarjana bahwa toga adalah segalanya, —pengakuan status kesarjanaan— sehingga harus dikejar mati-matian. Padahal, jika kita mau berpikir kritis sejenak, toga sebenarnya ingin menagih obralan janji mahasiswa penyeru “agen perubahan sosial” yang digembar-gemborkan dahulu. Sudahkah mereka menjadi agen perubahan sosial?
Bagi saya, toga tak lebih seperti sarung atau celana bagi muslim saat sembahyang mengahadap Tuhannya. Toga hanyalah simbol formal selebrasi hajatan universitas berjudul wisuda. Selebihnya, toga tak beda dengan pakaian lainnya. Meski begitu, toga bukan berarti miskin makna. Toga tetaplah busana sakral bagi para pemakainya (wisudawan/wisudawati), karena di dalam toga tersemat pelbagai makna agung.
Tafsir Toga vis a vis Kontribusi Sarjana
Dalam toga tersimpan pelbagai makna lewat sematan simbol dan tanda yang unik. Bicara soal simbol dan tanda, otomatis bicara semiotika budaya (cultural semiotic). Roland Barthes —semiotisi asal Perancis— pernah menyatakan, simbol yang tercipta dalam sebuah medium yang bersifat masif merupakan representasi dari budaya yang ada (Peter Pericles Trifonas: 2003). Jadi, jika dulu toga hanya dikenal bangsa Romawi kuno sekitar abad 1300 SM sekadar sebagai pakaian yang dililitkan ke tubuh saat dalam ruangan, maka kini, derajat toga telah tinggi dan menjadi budaya pakaian kaum akademisi yang dipakai hanya saat event tertentu seperti wisuda.
Jika kita mau menilik eksistensi toga, setidaknya terdapat tiga simbol dengan tiga makna yang unik dan berbeda dalam tubuh toga. Yakni, warna hitam pada toga, topi toga berbentuk persegi, dan kuncir tali di topi toga. Pertama, warna hitam pada toga. Seperti jamak diketahui, hitam merupakan simbol misteri dan kegelapan. Nah, misteri dan kegelapan inilah yang harus dikalahkan oleh para sarjana. Dengan sematan warna hitam, diharapkan para sarjana mampu menyibak kegelapan dengan pelbagai ilmu pengetahuan yang selama ini telah didapat. Ilmu pengetahuan adalah harga mati bagi para sarjana. Sejauh mana mereka mau mentransformasikan ilmunya pada masyarakat. Selain itu, warna hitam juga berarti keagungan. Maka dari itu, selain sarjana, hakim dan pemuka agama pun memakai toga dengan warna hitam. Jadi, sarjana adalah teladan masyarakat. Tak sepantasnya jika mereka menyalahi norma.
Kedua, topi toga berbentuk persegi. Topi toga berbentuk persegi menyimbolkan bahwa seorang sarjana dituntut mampu berpikir rasional, dan memandang segala sesuatu dari pelbagai sudut pandang secara komprehensif. Idealnya, sarjana harus mampu berpikir multidisipliner, tak rigid, dan tak eksklusif, dengan harapan agar tidak timbul klaim-klaim kebenaran yang berpotensi lahirnya konflik.
Ketiga, kuncir tali di topi toga. Saat penyerahan ijazah sarjana, master, atau doktor, biasanya kita mengamati adanya seremonial pindah kuncir tali yang semula dari kiri kemudian digeser ke kanan. Ini tentu bukan tanpa makna. Ini pertanda bahwa ketika sudah menjadi wisudawan atau wisudawati, mereka dituntut agar lebih mengandalkan otak kanannya —yang meniscayakan kreativitas dan inovatifitas pengembangan ilmu pengetahuan— ketimbang penggunaan otak kiri yang cenderung hanya berfungsi menerima asupan ilmu pengetahuan.
Terlepas dari tafsir toga, persoalan mendesak saat ini adalah sudahkah para sarjana, master, dan doktor memberikan kontribusi riil pada masyarakat sekitarnya? Idealnya, wisuda tak kemudian diartikan sebagai selesainya masa studi dengan raihan gelar dan “keberhasilan semu”, tapi wisuda lebih tepat diartikan sebagai memulai belajar dengan realitas kehidupan yang penuh dengan problematika akut. Kuliah, barulah belajar dengan segudang teori dengan bertebal buku, maka pasca lulus, wisudawan “ditantang” sejarah untuk membuktikan sejauh mana ia mampu menyelesaikan peliknya problem realitas sosial kemasyarakatan.
Bagi sebagian mahasiswa mencapai status wisudawan atau wisudawati adalah hal penting, tapi berpikir serta bertindak realistis selepas mendapat status wisudawan atau wisudawati justru lebih penting. Kontribusi adalah jawabannya. Pencarian status kesarjanaan tetaplah menjadi prioritas utama para mahasiswa, tapi pengabdian trilogi kemahasiswaan tetap menjadi hal niscaya. Sekali lagi, teriakan “agen perubahan sosial” yang biasanya menggema di sudut-sudut kampus hendaknya tak sekadar lipstik belaka, tetapi harus menjadi laku riil. Andakah agen perubahan sosial itu?
Dimuat di Majalah IDEA, edisi XXXI, Januari 2012
