Senjaputih's Blog

Februari 6, 2012

Warung Ibuku, Nafas Hidup Asaku

Filed under: Cerpen — senjaputih @ 8:49 am
Tags: ,

Cerpen: Ammar Machmud*

Warung makan warisan almarhumah nenekku yang terletak di pinggir jalan desa Ngembalrejo itu sudah buka sejak puluhan tahun yang lalu, tepatnya sekitar 30 tahun silam. Meski sederhana dan kecil, warung itu telah menorehkan pelbagai kisah suka-duka. Dari hasil jualan warung itulah, semua kebutuhan keluargaku dapat terpenuhi.

Setelah nenekku meninggal dunia pada 2007 lalu, kini ibuku yang melanjutkan usaha warung itu. Warung ibuku sangat sederhana sekali. Menu yang disuguhkan pun tak selengkap warung makan atau restoran di kota-kota besar. Menu yang disediakan di warung ibuku meliputi nasi pecel, nasi lodeh, nasi rames, getuk**, ketan basah dan aneka gorengan. Sedangkan minumannya meliputi teh, kopi, dan susu. Terbilang sangat sederhana memang, tapi jangan salah karena hasil usaha dari warung itulah, ibuku bisa membiayaiku hingga selesai kuliah sarjanaku.

Ibuku membuka warung pada pagi hari saja, antara pukul 05.30 wib hingga 10.00 wib. Ini dikarenakan ibuku tidak memiliki pembantu khusus yang membantu pekerjaan ibuku. Selain itu, secara ekonomi, keluargaku bisa dibilang pas-pasan dan belum mampu menyewa tenaga pembantu. Jadi, kedua orangtuaku lah yang melakukan semua pekerjaan itu secara mandiri.

Meski dengan segenap keterbatasan itu, orangtuaku tak pernah mengeluh apalagi putus asa. Justru, orangtuaku lah yang selalu mengajariku agar menjalani hidup dengan percaya diri, semangat bekerja, serta tidak lupa berdoa, meski kondisi kehidupan tidak senikmat apa yang diharapkan.

“Urip iku mung mampir ngombe, le. Dadi menungso ojo grundelan, sing penting ikhtiar tenanan lan ojo lali donga marang Sang Kuasa, ben uripmu kepenak donya-akhirate”,*** begitu pesan ibuku yang masih terngiang hingga kini.

Sejak tahun 2007, semua pekerjaan dapur ibuku hanya dibantu oleh ayahku. Maklum, karena ibuku hanya memiliki 3 anak, tetapi masing-masing dari mereka memiliki rutinitas yang tak bisa ditinggalkan. Jaelani, kakakku, sudah lama sekali merantau di Bandung. Bahkan, ia sudah beristri dan punya anak. Aku sendiri, saat itu, masih kuliah di Semarang, dan baru pulang ke rumah biasanya setiap satu bulan sekali. Sedangkan Dina, adikku, masih sekolah Madrasah Ibtidaiyyah (MI) di pagi hari, dan siang harinya, dia sekolah Madrasah Diniyyah. Singkat kata, usaha warung ibuku hanya dijalankan oleh ibu dan ayahku.

Kegiatan masak-memasak, biasanya dilakukan ibuku pada malam hari sehabis salat isya’ bersama ayahku. Luar biasanya, jika masakan yang dimasak banyak, ibuku memasak makanan terkadang hingga larut malam. Padahal, sekitar jam 03.30 dini hari, ibuku sudah harus bangun lagi untuk menyajikan aneka masakan untuk ditata di warung makan, sebab saat Subuh tiba biasanya sudah ada penjaja yang menyambangi warung ibuku.

Meski secara fisik pekerjaan ibuku terbilang berat dan melelahkan, tapi beliau tak pernah pesimis apalagi putus asa. Semua itu beliau jalani dengan percaya diri sembari mengharap ridla Ilahi. Prinsip beliau adalah selagi manusia masih bisa bernapas, maka tak ada manusia di dunia ini yang tak diberikan rejeki oleh Sang Kuasa. Rejeki itu sudah diatur oleh Sang Kuasa, tinggal manusia mau berusaha atau tidak.

***

Menjalankan usaha jualan makanan siap saji di warung tidaklah semudah membalikkan kedua telapak tangan. Butuh pengorbanan luar biasa dan tekad membaja. Dan itulah yang telah dialami ibuku selama beberapa tahun ini.

Bayangkan saja, jika makanan yang dijajakan masih tersisa banyak, hendak diapakan makanan itu? Jika dimakan sendiri untuk keluarga sangat berlebihan. Jika dibuang, akan percuma dan mubadzir. Lantas, untuk menyiasati hal itu, biasanya ibuku menjualnya lagi ke pasar terdekat rumahku dengan harga yang lebih murah dari harga jual biasanya. Ini dilakukan agar makanan yang ada tidak mubadzir dan terbuang percuma, sebab kebanyakan makanan yang tersaji adalah makanan basah. Jadi, tidak mungkin awet dan bisa dimakan lagi besok, jika tidak dimakan sesegera mungkin.

Meski warung ibuku sederhana, setiap hari libur nasional atau hari Ahad, alhamdulillah warung ibuku ramai dikunjungi para penjaja. Alhasil, ibuku pun lumayan meraup rupiah. Mungkin itu sisi keuntungannya. Namun, saat warung sepi penjaja, tak jarang ibuku harus memutar otak untuk menjajakannya kembali ke pasar atau jika memang terpaksa tidak laku, maka dengan kerelaan hati, ibuku pun memberikannya kepada tetanggaku yang membutuhkan.

Ibuku tak pernah menyesali hasil usahanya dari menjual makanan di warung. Jika hari ini makanan yang dijajakan habis sehingga bisa meraup rupiah, namun pada hari berikutnya sepi penjaja sehingga masih banyak menu masakan yang tersisa, maka ibuku selalu menasehatiku dengan ucapannya yang santun, “ikhtiar kuwi wajib le, tapi keputusan iku kuasane Pengeran” , demikian tuturnya.

Selain percaya diri dan semangat bekerja, ibuku juga menasehatiku agar aku jangan pernah menyerah dan takut untuk mengerjakan kebajikan. Orang yang takut berbuat kebajikan adalah orang yang tak siap sukses. Kesuksesan diperoleh bukan dalam sekejap mata, melainkan lahir dari proses panjang dan berani bersimbah luka serta bermandikan keringat. Hasil adalah tujuan dari segalanya, tetapi segalanya tak akan menjadi hasil tanpa proses yang melelahkan.

Hingga kini, sehari-harinya penghasilan keluargaku bergantung pada warung itu, kecuali bulan Ramadan. Pada bulan Ramadan, ibuku memilih menutup warung makan, dan mengganti bisnisnya dengan memproduksi jajanan lebaran, mulai dari kue semprit, kue pril, bolu kering, dan terkadang membuat madumongso juga. Sementara aku dan adikku yang mengantarkan pesanan kepada pembeli. Tetapi, kadang langganan ibuku datang sendiri ke rumahku saat menjelang lebaran tiba.

Harus aku akui, perjuangan orangtuaku, terutama ibuku, sungguh sangat luar biasa. Beliau tak hanya menjadi pahlawan bagiku, karena telah rela memeras keringatnya demi kesuksesanku, tetapi ibuku jua lah yang selalu mengajarkanku kesabaran, keuletan, dan kesahajaan. Sementara ayahku cenderung mengajarkan padaku keberanian dalam bertindak sebagai bekal menjadi imam bagi istri kelak jika aku sudah berumah tangga.

Secara otomatis, warung ibuku telah menjadi nafas asaku. Berkat hasil jerih payah ibuku dari jualan nasi setiap paginya, Alhamdulillah kuliah S1-ku selesai tepat waktu, bahkan Alhamdulillah aku pun bisa meraih nilai cumlaude (istimewa). “Terimakasih Ma.., Sampai kapanpun, engkau adalah pahlawan sejati bagiku, Doamu selalu kuharap untuk kesuksesan-kesuksesanku selanjutnya..!”, bersitku dalam hati.

*Cerpen ini merupakan naskah penulis yang mendapatkan juara III Lomba Cerpen Tema Peran Orangtua yang diselenggarakan oleh Dhee Shinzy,dkk dan dibukukan menjadi buku berjudul “Hadiah Kecil untuk Orangtua” (Leutika Prio, 2011)

**Makanan khas Jawa tengah dari ketela, biasanya dicampuri parutan kelapa.
***Bahasa Jawa: hidup itu sekadar mampir minum, nak. Maka, jangan jadi manusia yang suka mengeluh, yang penting berusaha maksimal dan jangan lupa berdoa kepada sang Kuasa agar hidupmu bahagia dunia-akhirat.

2 Komentar »

  1. sangat menyentuh… memang benar kalau kasih sayang orang tua takkan dapat tergantikan dengan apapun

    Komentar oleh Ai Hanaco — Februari 21, 2012 @ 1:56 pm |

    • Di bagian mananya yang menyentuh? Diakui atau tidak, terkadang sebagian diantara manusia itu lalai dan abai apa yang telah diusahakan oleh para orangtua dari kecil hingga saat ini. Seakan jerih-payah mereka itu tak berharga sama sekali. Padahal, bagi saya, sungguh orangtua merupakan kekuatan utama bagi kesuksesan anak-anaknya di masa depan. Bukan begitu?

      Komentar oleh senjaputih — Februari 22, 2012 @ 12:33 am |


Umpan RSS untuk komentar-komentar pada tulisan ini. URI Lacak Balik

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Tema: Rubric. Blog pada WordPress.com.