Senjaputih's Blog

Mei 8, 2011

Menyoal Ketidakadilan

Filed under: Resensi — senjaputih @ 4:24 am

Koran Jakarta, Sabtu, 07 Mei 2011


Judul : I Love You Bodoh
Penulis : Hapie Joseph Aloysia
Penerbit : Immortal Publisher, Yogyakarta
Tahun : I, Februari 2011
Tebal : 270 halaman

Menjadi pelacur barang kali merupakan pilihan terakhir bagi sebagian orang yang telah pesimis ke sana-ke mari karena tidak mendapatkan pekerjaan dan penghidupan yang layak. Menjadi pelacur selalu dihadapkan pada dua sisi hitam-putih yang saling bertolak belakang. Mendapat pujaan sekaligus cercaan. Mendapat pujaan karena ia mampu menawarkan jasa desah pada pelanggannya lewat keelokan tubuhnya, dan mendapat cercaan karena profesinya sarat “kebiadaban” dan tidak mengindahkan norma agama maupun sosial.
Buku besutan Hapie Joseph Aloysia ini hadir menyajikan pelbagai kisah suka sekaligus duka Hayley Audrina Alonso, seorang perempuan pelacur yang di hari-hari akhir menjelang kelahiran anaknya selalu menjadi pesakitan karena ditinggal mati suaminya, Rigo Alonso. Alih-alih hidup, Hayley pun selalu dirundung kesedihan dan ia merasa ada semacam ketidakadilan atas keputusan takdir. Dulu, sebelum mengenal Rigo, Hayley menganggap bahwa semua lelaki itu menginginkan perempuan hanya untuk satu alasan, yakni dinikmati dan lantas dicampakkan.
Bagi Hayley, perempuan tak ubahnya “barang mainan” yang habis dibeli dan sudah puas dinikmati, lantas dibuang begitu saja. Habis manis sepah dibuang. Namun, setelah kehadiran Rigo dalam kehidupannya, Hayley menjadi sadar bahwa manusia itu butuh cinta sejati. Cinta yang tak membutakan pandangan di antara sepasang kekasih, melainkan cinta yang benar-benar tumbuh dan bersemi lantaran adanya benih rasa saling peduli dan kasih sayang yang selalu ditaburkan. Itulah yang dialami Hayley sejak menjadi istri Rigo.
Dalam novel ini, dituturkan bahwa kecintaan Hayley kepada Rigo sungguh sangat tulus dan tak tergantikan oleh siapa pun. Ini dibuktikan dengan selepas kematian Rigo, Hayley tak ada kehendak sama sekali untuk menikah lagi dengan laki-laki lain. Baginya, Rigo adalah orang teristimewa pertama sekaligus terakhir dalam hidupnya. Rigo banyak mengajarkan berbagai hal pada Hayley ihwal tanggung jawab dan menghargai sebuah keputusan. Misalnya, dulu sebelum menikah, Rigo tak pernah melarang Hayley berprofesi sebagai pelacur.
Rigo justru pernah bilang kepada Hayley, “Sejatinya, profesimu sebagai pelacur bukan karena kau cinta kepada pelangganmu, tetapi itu karena keterdesakan kondisi ekonomi yang sedang kau hadapi, bukan begitu sayang?” (halaman 64). Penulis buku ini, Hapie Aloysia, sengaja menggunakan istilah “bodoh” yang disematkan pada pasangan Rigo dan Hayley, bukan berarti untuk menyebut mereka sebagai orang yang tak tahu apa-apa yang semestinya jamak orang mengetahui, melainkan “bodoh” di sini merupakan sapaan sayang Hayley kepada suaminya tercinta, begitu juga sebaliknya.
Buku ini merupakan ikhtiar luar biasa dari penulisnya karena ia sama sekali tak menyinggung apalagi menyoal status pelacur sebagai “makhluk sampah”, tetapi Hapie lebih cenderung menelisik detail ihwal jerih payah pengorbanan pelacur dalam menghadapi ganasnya kehidupan yang sarat ketidakadilan.
Peresensi adalah Ammar Machmud, penulis lepas, tinggal di Semarang
Sumber: http://koran-jakarta.com/berita-detail.php?id=82071

2 Komentar »

  1. dimana saya bisa mendapatkan bukunya?

    Komentar oleh Ssty Oetama Wawenk — November 14, 2011 @ 11:03 am |

    • ini saya hasil kiriman dari penerbit, coba saja kontak penerbitnya langsung cari via google.Immortal Publisher, Yogyakarta.

      Komentar oleh senjaputih — Januari 12, 2012 @ 1:41 am |


Umpan RSS untuk komentar-komentar pada tulisan ini. URI Lacak Balik

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Tema: Rubric. Blog pada WordPress.com.