Senjaputih's Blog

Februari 23, 2012

Tragedi Toga Dibalik Wisuda

Filed under: Esai — senjaputih @ 8:53 am
Tags: , , , ,

Oleh: Ammar Machmud

Dalam hiruk-pikuk selebrasi wisuda, toga menjelma bagai “jas presiden” yang pantas diagung-agungkan. Toga mengabarkan pada khalayak bahwa seorang anak manusia bernama mahasiswa telah selesai masa studinya di universitas dengan raihan gelar bertajuk sarjana, master, atau doktor. Toga mengukuhkan kuasa serta identitas mahasiswa menjadi manusia merdeka. Ya, manusia yang merdeka dari kungkungan pelbagai tugas kuliah dan tetek-bengek urusan perkuliahan.

Aneh kedengarannya, jika wisudawan atau wisudawati tak mengenakan toga saat wisuda tiba. Entah fenomena ini telah menjadi tradisi wajib para akademisi saat wisuda tiba, atau sekadar selebrasi event yang bisa saja diganti jika sudah tak relevan dengan zamannya. Yang pasti, toga telah ditafsir wisudawan atau wisudawati sebagai simbol kesuksesan studi.

Sadar atau tidak, toga yang seharusnya menjadi simbol kewibawaan bagi para sarjana, alih-alih justru menjelma menjadi tragedi yang memilukan, bahkan menyengsarakan. Toga menjadi tragedi, tatkala sarjana tak kuasa memaknainya secara kritis. Toga yang semula menjadi kawan saat wisuda, bisa jadi akan menjadi lawan saat pesta-pora wisuda usai. Ya, toga menjadi lawan yang akan “menertawakan” sinis pada sarjana, jika sarjana tak mampu memberikan kontribusi riil atau sekadar mendistribusikan ilmunya bagi masyarakat sekitarnya.

Secara tak sadar, selama ini sebenarnya toga telah berhasil mengelabuhi asumsi seorang sarjana bahwa toga adalah segalanya, —pengakuan status kesarjanaan— sehingga harus dikejar mati-matian. Padahal, jika kita mau berpikir kritis sejenak, toga sebenarnya ingin menagih obralan janji mahasiswa  penyeru “agen perubahan sosial” yang digembar-gemborkan dahulu. Sudahkah mereka menjadi agen perubahan sosial?

Bagi saya, toga tak lebih seperti sarung atau celana bagi muslim saat sembahyang mengahadap Tuhannya. Toga hanyalah simbol formal selebrasi hajatan universitas berjudul wisuda. Selebihnya, toga tak beda dengan pakaian lainnya. Meski begitu, toga bukan berarti miskin makna. Toga tetaplah busana sakral bagi para pemakainya (wisudawan/wisudawati), karena di dalam toga tersemat pelbagai makna agung.

Tafsir Toga vis a vis Kontribusi Sarjana

Dalam toga tersimpan pelbagai makna lewat sematan simbol dan tanda yang unik. Bicara soal simbol dan tanda, otomatis bicara  semiotika budaya (cultural semiotic). Roland Barthes —semiotisi asal Perancis— pernah menyatakan, simbol yang tercipta dalam sebuah medium yang bersifat masif merupakan representasi dari budaya yang ada (Peter Pericles Trifonas: 2003). Jadi, jika dulu toga hanya dikenal bangsa Romawi kuno sekitar abad 1300 SM sekadar sebagai pakaian yang dililitkan ke tubuh saat dalam ruangan, maka kini, derajat toga telah tinggi dan menjadi budaya pakaian kaum akademisi yang dipakai hanya saat event tertentu seperti wisuda.

Jika kita mau menilik eksistensi toga, setidaknya terdapat tiga simbol dengan tiga makna yang unik dan berbeda dalam tubuh toga. Yakni, warna hitam pada toga, topi toga berbentuk persegi, dan kuncir tali di topi toga.  Pertama, warna hitam pada toga. Seperti jamak diketahui, hitam merupakan simbol misteri dan kegelapan. Nah, misteri dan kegelapan inilah yang harus dikalahkan oleh para sarjana. Dengan sematan warna hitam, diharapkan para sarjana mampu menyibak kegelapan dengan pelbagai ilmu pengetahuan yang selama ini telah didapat. Ilmu pengetahuan adalah harga mati bagi para sarjana. Sejauh mana mereka mau mentransformasikan ilmunya pada masyarakat. Selain itu, warna hitam juga berarti keagungan. Maka dari itu, selain sarjana, hakim dan pemuka agama pun memakai toga dengan warna hitam. Jadi, sarjana adalah teladan masyarakat. Tak sepantasnya jika mereka menyalahi norma.

Kedua, topi toga berbentuk persegi. Topi toga berbentuk persegi menyimbolkan bahwa seorang sarjana dituntut mampu berpikir rasional, dan memandang segala sesuatu dari pelbagai sudut pandang secara komprehensif. Idealnya, sarjana harus mampu berpikir multidisipliner, tak rigid, dan tak eksklusif, dengan harapan agar tidak timbul klaim-klaim kebenaran yang berpotensi lahirnya konflik.

Ketiga, kuncir tali di topi toga. Saat penyerahan ijazah sarjana, master, atau doktor, biasanya kita mengamati adanya seremonial pindah kuncir tali yang semula dari kiri kemudian digeser ke kanan. Ini tentu bukan tanpa makna. Ini pertanda bahwa ketika sudah menjadi wisudawan atau wisudawati, mereka dituntut agar lebih mengandalkan otak kanannya —yang meniscayakan kreativitas dan inovatifitas pengembangan ilmu pengetahuan— ketimbang penggunaan otak kiri yang cenderung hanya berfungsi menerima asupan ilmu pengetahuan.

Terlepas dari tafsir toga, persoalan mendesak saat ini adalah sudahkah para sarjana, master, dan doktor memberikan kontribusi riil pada masyarakat sekitarnya? Idealnya, wisuda tak kemudian diartikan sebagai selesainya masa studi dengan raihan gelar dan “keberhasilan semu”, tapi wisuda lebih tepat diartikan sebagai memulai belajar dengan realitas kehidupan yang penuh dengan problematika akut. Kuliah, barulah belajar dengan segudang teori dengan bertebal buku, maka pasca lulus, wisudawan “ditantang” sejarah untuk membuktikan sejauh mana ia mampu menyelesaikan peliknya problem realitas sosial kemasyarakatan.

Bagi sebagian mahasiswa mencapai status wisudawan atau wisudawati adalah hal penting, tapi berpikir serta bertindak realistis selepas mendapat status wisudawan atau wisudawati justru lebih penting. Kontribusi adalah jawabannya. Pencarian status kesarjanaan tetaplah menjadi prioritas utama para mahasiswa, tapi pengabdian trilogi kemahasiswaan tetap menjadi hal niscaya. Sekali lagi, teriakan “agen perubahan sosial” yang biasanya menggema di sudut-sudut kampus hendaknya tak sekadar lipstik belaka, tetapi harus menjadi laku riil. Andakah agen perubahan sosial itu?

Dimuat di Majalah IDEA, edisi XXXI, Januari 2012


Februari 6, 2012

Warung Ibuku, Nafas Hidup Asaku

Filed under: Cerpen — senjaputih @ 8:49 am
Tags: ,

Cerpen: Ammar Machmud*

Warung makan warisan almarhumah nenekku yang terletak di pinggir jalan desa Ngembalrejo itu sudah buka sejak puluhan tahun yang lalu, tepatnya sekitar 30 tahun silam. Meski sederhana dan kecil, warung itu telah menorehkan pelbagai kisah suka-duka. Dari hasil jualan warung itulah, semua kebutuhan keluargaku dapat terpenuhi.

Setelah nenekku meninggal dunia pada 2007 lalu, kini ibuku yang melanjutkan usaha warung itu. Warung ibuku sangat sederhana sekali. Menu yang disuguhkan pun tak selengkap warung makan atau restoran di kota-kota besar. Menu yang disediakan di warung ibuku meliputi nasi pecel, nasi lodeh, nasi rames, getuk**, ketan basah dan aneka gorengan. Sedangkan minumannya meliputi teh, kopi, dan susu. Terbilang sangat sederhana memang, tapi jangan salah karena hasil usaha dari warung itulah, ibuku bisa membiayaiku hingga selesai kuliah sarjanaku.

Ibuku membuka warung pada pagi hari saja, antara pukul 05.30 wib hingga 10.00 wib. Ini dikarenakan ibuku tidak memiliki pembantu khusus yang membantu pekerjaan ibuku. Selain itu, secara ekonomi, keluargaku bisa dibilang pas-pasan dan belum mampu menyewa tenaga pembantu. Jadi, kedua orangtuaku lah yang melakukan semua pekerjaan itu secara mandiri.

Meski dengan segenap keterbatasan itu, orangtuaku tak pernah mengeluh apalagi putus asa. Justru, orangtuaku lah yang selalu mengajariku agar menjalani hidup dengan percaya diri, semangat bekerja, serta tidak lupa berdoa, meski kondisi kehidupan tidak senikmat apa yang diharapkan.

“Urip iku mung mampir ngombe, le. Dadi menungso ojo grundelan, sing penting ikhtiar tenanan lan ojo lali donga marang Sang Kuasa, ben uripmu kepenak donya-akhirate”,*** begitu pesan ibuku yang masih terngiang hingga kini.

Sejak tahun 2007, semua pekerjaan dapur ibuku hanya dibantu oleh ayahku. Maklum, karena ibuku hanya memiliki 3 anak, tetapi masing-masing dari mereka memiliki rutinitas yang tak bisa ditinggalkan. Jaelani, kakakku, sudah lama sekali merantau di Bandung. Bahkan, ia sudah beristri dan punya anak. Aku sendiri, saat itu, masih kuliah di Semarang, dan baru pulang ke rumah biasanya setiap satu bulan sekali. Sedangkan Dina, adikku, masih sekolah Madrasah Ibtidaiyyah (MI) di pagi hari, dan siang harinya, dia sekolah Madrasah Diniyyah. Singkat kata, usaha warung ibuku hanya dijalankan oleh ibu dan ayahku.

Kegiatan masak-memasak, biasanya dilakukan ibuku pada malam hari sehabis salat isya’ bersama ayahku. Luar biasanya, jika masakan yang dimasak banyak, ibuku memasak makanan terkadang hingga larut malam. Padahal, sekitar jam 03.30 dini hari, ibuku sudah harus bangun lagi untuk menyajikan aneka masakan untuk ditata di warung makan, sebab saat Subuh tiba biasanya sudah ada penjaja yang menyambangi warung ibuku.

Meski secara fisik pekerjaan ibuku terbilang berat dan melelahkan, tapi beliau tak pernah pesimis apalagi putus asa. Semua itu beliau jalani dengan percaya diri sembari mengharap ridla Ilahi. Prinsip beliau adalah selagi manusia masih bisa bernapas, maka tak ada manusia di dunia ini yang tak diberikan rejeki oleh Sang Kuasa. Rejeki itu sudah diatur oleh Sang Kuasa, tinggal manusia mau berusaha atau tidak.

***

Menjalankan usaha jualan makanan siap saji di warung tidaklah semudah membalikkan kedua telapak tangan. Butuh pengorbanan luar biasa dan tekad membaja. Dan itulah yang telah dialami ibuku selama beberapa tahun ini.

Bayangkan saja, jika makanan yang dijajakan masih tersisa banyak, hendak diapakan makanan itu? Jika dimakan sendiri untuk keluarga sangat berlebihan. Jika dibuang, akan percuma dan mubadzir. Lantas, untuk menyiasati hal itu, biasanya ibuku menjualnya lagi ke pasar terdekat rumahku dengan harga yang lebih murah dari harga jual biasanya. Ini dilakukan agar makanan yang ada tidak mubadzir dan terbuang percuma, sebab kebanyakan makanan yang tersaji adalah makanan basah. Jadi, tidak mungkin awet dan bisa dimakan lagi besok, jika tidak dimakan sesegera mungkin.

Meski warung ibuku sederhana, setiap hari libur nasional atau hari Ahad, alhamdulillah warung ibuku ramai dikunjungi para penjaja. Alhasil, ibuku pun lumayan meraup rupiah. Mungkin itu sisi keuntungannya. Namun, saat warung sepi penjaja, tak jarang ibuku harus memutar otak untuk menjajakannya kembali ke pasar atau jika memang terpaksa tidak laku, maka dengan kerelaan hati, ibuku pun memberikannya kepada tetanggaku yang membutuhkan.

Ibuku tak pernah menyesali hasil usahanya dari menjual makanan di warung. Jika hari ini makanan yang dijajakan habis sehingga bisa meraup rupiah, namun pada hari berikutnya sepi penjaja sehingga masih banyak menu masakan yang tersisa, maka ibuku selalu menasehatiku dengan ucapannya yang santun, “ikhtiar kuwi wajib le, tapi keputusan iku kuasane Pengeran” , demikian tuturnya.

Selain percaya diri dan semangat bekerja, ibuku juga menasehatiku agar aku jangan pernah menyerah dan takut untuk mengerjakan kebajikan. Orang yang takut berbuat kebajikan adalah orang yang tak siap sukses. Kesuksesan diperoleh bukan dalam sekejap mata, melainkan lahir dari proses panjang dan berani bersimbah luka serta bermandikan keringat. Hasil adalah tujuan dari segalanya, tetapi segalanya tak akan menjadi hasil tanpa proses yang melelahkan.

Hingga kini, sehari-harinya penghasilan keluargaku bergantung pada warung itu, kecuali bulan Ramadan. Pada bulan Ramadan, ibuku memilih menutup warung makan, dan mengganti bisnisnya dengan memproduksi jajanan lebaran, mulai dari kue semprit, kue pril, bolu kering, dan terkadang membuat madumongso juga. Sementara aku dan adikku yang mengantarkan pesanan kepada pembeli. Tetapi, kadang langganan ibuku datang sendiri ke rumahku saat menjelang lebaran tiba.

Harus aku akui, perjuangan orangtuaku, terutama ibuku, sungguh sangat luar biasa. Beliau tak hanya menjadi pahlawan bagiku, karena telah rela memeras keringatnya demi kesuksesanku, tetapi ibuku jua lah yang selalu mengajarkanku kesabaran, keuletan, dan kesahajaan. Sementara ayahku cenderung mengajarkan padaku keberanian dalam bertindak sebagai bekal menjadi imam bagi istri kelak jika aku sudah berumah tangga.

Secara otomatis, warung ibuku telah menjadi nafas asaku. Berkat hasil jerih payah ibuku dari jualan nasi setiap paginya, Alhamdulillah kuliah S1-ku selesai tepat waktu, bahkan Alhamdulillah aku pun bisa meraih nilai cumlaude (istimewa). “Terimakasih Ma.., Sampai kapanpun, engkau adalah pahlawan sejati bagiku, Doamu selalu kuharap untuk kesuksesan-kesuksesanku selanjutnya..!”, bersitku dalam hati.

*Cerpen ini merupakan naskah penulis yang mendapatkan juara III Lomba Cerpen Tema Peran Orangtua yang diselenggarakan oleh Dhee Shinzy,dkk dan dibukukan menjadi buku berjudul “Hadiah Kecil untuk Orangtua” (Leutika Prio, 2011)

**Makanan khas Jawa tengah dari ketela, biasanya dicampuri parutan kelapa.
***Bahasa Jawa: hidup itu sekadar mampir minum, nak. Maka, jangan jadi manusia yang suka mengeluh, yang penting berusaha maksimal dan jangan lupa berdoa kepada sang Kuasa agar hidupmu bahagia dunia-akhirat.

Februari 1, 2012

Mengapresiasi Perjuangan Orangtua

Filed under: Resensi — senjaputih @ 12:56 pm
Tags:

Koran Jakarta, 31 Januari 2012
Judul : Hadiah Kecil untuk Orang Tua
Penulis : Dhee Shinzy and Frends
Penerbit : Leutika Prio, Yogyakarta
Cetakan : I, Desember 2011
Tebal : xvii 169 halaman
Harga : Rp40.700

Tahukah orang paling berjasa dalam merawat, mendidik, serta mencukupi kebutuhan hidup Anda dari kecil hingga dewasa? Tahukah orang yang (sebenarnya) paling hebat di balik “kehebatan” Anda? Sudah pasti, jawabannya adalah orangtua. Mereka selalu ingat di mana pun kita berada. Apakah kita sebagai anak selalu ingat keberadaan mereka? Bapak-ibu juga yang selalu mengerti dan memenuhi berbagai kebutuhan anak. Tapi, apakah anak sudah bisa memenuhi kebutuhan mereka? Karena berbagai pertanyaan itulah, buku ini hadir.
Buku kumpulan cerpen setebal 169 halaman ini bermula dari hasil perlombaan atas buku Sampai Penghabisan yang diselenggarakan Dhee Shinzy Yunengsih dan kawankawannya pada pertengahan 2011. Kehadiran buku ini bermaksud mengapresiasi perjuangan serta kasih sayang para orangtua yang sebenarnya sering kita abaikan.
Ada banyak kisah menarik sekaligus inspiratif, baik sebagai orang tua maupun anak. Sebagai tamsil, ada cerpen berjudul “Toples Kaca Antik” karya Lisna Nur Chairinnisa. Dikisahkan, meski orangtuanya berpendidikan rendah dan hanya berprofesi sebagai pedagang kue kecil-kecilan, mereka selalu optimistis dan tak pernah letih mendoakan anaknya agar dapat sekolah ke perguruan tinggi, bahkan sampai lulus S2.
Ketika cita-cita itu menjadi kenyataan, sang anak pun mengapresiasi perjuangan orangtuanya dengan cara yang unik, yakni dengan menulis surat rahasia dan dimasukkan ke dalam toples kaca. Surat itu berisi renungan, pujian, dan kerinduan pada orangtuanya. Kelak,surat itu hanya dibuka pada saat yang tepat, selepas sang anak diwisuda S2.
Alhasil, ketika waktunya tiba, surat itu dibuka dan dibaca. Maka, rasa haru dan linangan air mata pun tak terelakkan antara sang anak dan orangtuanya (halaman 33-42).
Ada juga cerpen berjudul “Susu untuk Alifta” yang berkisah ihwal perjuangan seorang ibu yang telah uzur untuk membelikan susu bagi Alifta, anaknya. Pernah suatu hari, sang Ibu tak punya uang untuk membelikan susu untuk Alifta.Akhirnya dia memberi air tajin yang dicampur gula. Meski begitu, Alifta tak pernah protes. Hingga suatu hari, sang ibu pun memutuskan bekerja sebagai tukang bersih-bersih rumah sakit, dengan harapan bisa membeli susu bagi Alifta. Akhirnya, ibunya pun bisa kembali membelikan susu buat Alifta. Namun ketika Alifta telah beranjak dewasa dan berprofesi sebagai dokter spesialis, Alifta pun diajak ibunya ke rumah sakit, tempat beliau bekerja dahulu.
Seketika itu, Alifta pun terkejut bukan main. Ibunya juga bercerita bahwa di rumah sakit itulah, dia juga bertemu ayah tiri Alifta. Selain sebagai tukang bersih-bersih, ibu Alifta juga berprofesi sebagai penjual darah karena kebetulan golongan darahnya O, jadi bisa didonorkan kepada siapa pun. Mendengar semua penuturan ibunya itu, Alifta pun diam termenung. Singkat cerita, sejak itu Alifta berjanji pada dirinya akan menjadi donatur susu tetap kepada anak-anak miskin yang kekurangan gizi (halaman 78-83). Saya kira dalam buku ini masih banyak lagi kisah-kisah lain yang berceloteh ihwal perjuangan para orang tua yang sungguh dahsyat. Itu semua mereka lakukan dengan ikhlas dan susahpayah, demi memperjuangkan kebahagiaan dan kesuksesan anak-anaknya di masa mendatang.
Lalu, apakah kita sebagai anak rela mengecewakan atau bahkan menyakiti hatinya? Buku ini sarat pesan makna berharga. Secara tidak langsung, para penulis cerpen ini telah sukses membius pembaca agar lebih memperhatikan etika dan tata krama terhadap kedua orang tua karena orang tua-lah yang telah bersusah payah memberikan yang terbaik demi kebahagiaan anak-anaknya.
Tak ada anak yang sukses tanpa peran orang tua. Sebaliknya, kebahagiaan orang tua tak akan lengkap tanpa kesuksesan anak. Di belakang anak yang hebat, terdapat pula orang tua yang hebat. Maka, tak ada pilihan kecuali berbakti kepada kedua orang tua dengan cara merawatnya dan mengapresiasi jerih payah perjuangan mereka.
Peresensi adalah Ammar Machmud, pegiat di Arwaniyyah Institute, Kudus

Halaman Berikutnya »

Theme: Rubric. Blog pada WordPress.com.